Minyak bumi secara umum dapat dibedakan menjadi minyak mentah ringan (light crude oil) dan minyak mentah berat (heavy crude oil). Light crude oil terbentuk dari makhluk hidup yang telah mati dan terjebak dalam sebuah ruangan bebatuan di dalam tanah atau di dasar laut selama jutaan tahun yang lalu. Sedangkan heavy crude oil merupakan sisa atau residu pembentukan light crude oil yang masuk ke pori-pori bebatuan sehingga terjebak dan kehilangan sifatnya sebagai light crude oil akibat penguapan dan degradasi oleh bakteri.
Sebagai fosil, upaya untuk memperoleh minyak bumi tidaklah mudah dan tak jarang merusak lingkungan. Sebelum menambang heavy crude oil, lokasi tanah di mana minyak bumi ditemukan harus terlebih dulu digundulkan dari tumbuhan dan pepohonan yang tumbuh di atasnya. Aliran air tanah dan air permukaan juga dikeringkan. Tanah kemudian digali hingga sangat dalam, timbunan tanah berpasir, bebatuan, dan tanah lempung diambil hingga bebatuan dan pasir minyak dapat terlihat. Bebatuan dan pasir minyak tersebut selanjutnya diangkut, dan dicampurkan dengan air panas untuk diambil kandungan minyaknya. Terakhir, diolah dengan teknologi penyulingan atau distilasi guna menghasilkan berbagai produk olahan minyak, seperti bensin, gas LPG, avtur, aspal, dan lain sebagainya.
Urutan pemrosesan:
- Penggundulan hutan
- Pengeringan aliran air
- Penggalian dan pengangkutan
- Pencampuran air panas
- Penyulingan/distilasi pada kilang minyak
Jadi, tahapan pemrosesan heavy crude oil untuk dapat diolah menjadi produk minyak bumi yang tepat ditunjukkan pada nomor 3 – 6 – 1 – 4 – 2.
NOTE:
Fermentasi bakteri bukan merupakan bagian tahapan pengolahan/pemanfaatan heavy crude oil sebagai minyak bumi. Fermentasi bakteri digunakan pada proses pembentukan biogas dari sampah atau limbah organik peternakan dan rumah tangga.