Latihan Fisika Kelas XI Polarisasi Cahaya
Admin Cube
Soal
10
Kesulitan
Reguler
Waktu
Mata Pelajaran
Fisika
Selesai
Benar
0
Salah
1
Dilewati
9

Komposisi Skor

Peringkat

 
1. 6
2. 0
3. 0
4. 0
5. 0
6+. 0
  • Pilgan
    0

    Berikut ini yang tidak termasuk kemungkinan yang terjadi pada proses polarisasi cahaya dengan pemantulan adalah ....

    A

    cahaya pantul terpolarisasi sebagian

    B

    cahaya pantul terpolarisasi sempurna

    C

    cahaya pantul terpolarisasi seluruhnya

    D

    cahaya tidak dapat terpolarisasi dengan pemantulan

    E

    cahaya pantul tak terpolarisasi

    Pembahasan:

    Cahaya terpolarisasi dapat diperoleh dari cahaya tak terpolarisasi dengan cara pemantulan. Jika seberkas cahaya menuju ke bidang batas antara dua medium, sebagian cahaya akan dipantulkan. Ada tiga kemungkinan yang terjadi pada cahaya yang dipantulkan, yaitu:

    1) cahaya pantul tak terpolarisasi

    2) cahaya pantul terpolarisasi sebagian

    3) cahaya pantul terpolarisasi sempurna atau seluruhnya

    Jadi, berikut ini yang tidak termasuk kemungkinan yang terjadi pada proses polarisasi cahaya dengan pemantulan adalah cahaya tidak dapat terpolarisasi dengan pemantulan.

  • Pilgan

    Berdasarkan hasil percobaan David Brewster pada proses polarisasi dengan pemantulan bahwa peristiwa tersebut bergantung pada ....

    A

    lebar celah

    B

    jarak sumber cahaya dengan bidang pantul

    C

    sudut bias cahaya

    D

    jenis bidang pantul

    E

    sudut datang cahaya

    Pembahasan:

    Cahaya terpolarisasi dapat diperoleh dari cahaya tak terpolarisasi dengan cara pemantulan. Jika seberkas cahaya menuju ke bidang batas antara dua medium, sebagian cahaya akan dipantulkan. Ada tiga kemungkinan yang terjadi pada cahaya yang dipantulkan, yaitu:

    1) cahaya pantul tak terpolarisasi

    2) cahaya pantul terpolarisasi sebagian

    3) cahaya pantul terpolarisasi sempurna atau seluruhnya

    Hasil percobaan oleh Davis Brewster menunjukkan bahwa ketiha kemungkinan di atas bergantung pada besaran sudut datang cahaya.

    Jadi, berdasarkan hasil percobaan David Brewster pada proses polarisasi dengan pemantulan bahwa peristiwa tersebut bergantung pada sudut datang cahaya.

  • Pilgan

    Berkas cahaya yang datang pada analisator memiliki medan listrik 720 N/C. Jika sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah 60o, maka medan listrik yang diteruskan analisator adalah ....

    A

    360 N/C

    B

    540 N/C

    C

    420 N/C

    D

    480 N/C

    E

    300 N/C

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Medan listrik yang datang pada analisator E = 720 N/C

    Sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator θ=60o\theta=60^o

    Ditanya:

    Medan listrik yang diteruskan analisator E2=?E_2=?

    Jawaban:

    Teknik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah getar lainnya. Polaroid yang biasa digunakan berjumlah dua dimana polaroid pertama disebut sebagai polarisator dan polaroid kedua disebut sebagai analisator.

    Cahaya terpolarisasi yang masih mempunyai kuat medan listrik belum berubah menuju menuju ke analisator (sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah (θ)\left(\theta\right). Di analisator, semua komponen E yang tegak lurus sumbu transmisi analisator diserap, hanya komponen E yang sejajar sumbu analisator yang diteruskan. Kuat medan listrik yang diteruskan oleh analisator adalah sebagai berikut,

    E2=EcosθE_2=E\cos\theta

    sehingga,

    E2=720cos60oE_2=720\cos60^o

    =720(12)=720\left(\frac{1}{2}\right)

    =360 N/C=360\text{ N/C}

    Jadi, medan listrik yang diteruskan analisator adalah 360 N/C.

  • Pilgan

    Sinar datang dari udara (n=1)\left(n=1\right) menuju suatu medium yang memiliki indeks bias 1,6. Sudut polarisasi untuk medium tersebut adalah ....

    A

    58o

    B

    50o

    C

    45o

    D

    68o

    E

    70o

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Indeks bias udara nu=1n_u=1

    Indeks bias medium nm=1,6n_m=1,6

    Ditanya:

    Sudut polarisasi medium θB=?\theta_{\text{B}}=?

    Jawaban:

    Sudut datang yang menghasilkan sinar pantul terpolarisasi sempurna disebut sudut polarisasi atau sudut Brewster. Persamaan yang berhubungan dengan sudut Brewster dan indeks bias dikenal dengan sebutan hukum Brewster.

    tanθB=n2n1\tan\theta_{\text{B}}=\frac{n_2}{n_1}

    Sehingga sudut polarisasi medium dapat ditentukan sebagai berikut

    tanθB=n2n1\tan\theta_{\text{}\text{B}}=\frac{n_2}{n_1}

    tanθB=nmnu\tan\theta_{\text{}\text{B}}=\frac{n_m}{n_u}

    tanθB=1,61\tan\theta_{\text{B}}=\frac{1,6}{1}

    tanθB=1,6\tan\theta_{\text{B}}=1,6

    θB=58o\theta_B=58^o

    Jadi, sudut polarisasi medium adalah 58o.

  • Pilgan

    Seberkas cahaya tak terpolarisasi mengenai polaroid pertama dengan intensitas II. Intensitas cahaya yang keluar dari sistem polaroid yang terdiri atas dua polaroid jika sudut antara kedua sumbu transmisi tersebut 53o adalah ...

    A

    1950I\frac{19}{50}I

    B

    950I\frac{9}{50}I

    C

    1350I\frac{13}{50}I

    D

    1750I\frac{17}{50}I

    E

    1150I\frac{11}{50}I

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Intensitas awal (Io)=I\left(I_o\right)=I

    Sudut antara kedua sumbu transmisi θ=53o\theta=53^o

    Ditanya:

    Intensitas cahaya yang keluar dari sistem polaroid I2=?I_2=?

    Jawaban:

    Teknik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah getar lainnya. Polaroid yang biasa digunakan berjumlah dua dimana polaroid pertama disebut sebagai polarisator dan polaroid kedua disebut sebagai analisator.

    Cahaya yang datang pada polaroid akan dikeluarkan menjadi cahaya dengan intensitas yang berbeda. Jika cahaya yang datang memiliki intensitas IoI_o maka intensitas yang dikeluarkan polarisator adalah I1I_1 sedangkan yang dikeluarkan analisator adalah I2I_2. Hubungan antara intensitas tersebut memenuhi hukum Malus yaitu sebagai berikut:

    I2=I1cos2θI_2=I_1\cos^2\theta

    =12Iocos2θ=\frac{1}{2}I_o\cos^2\theta

    Intensitas cahaya yang keluar dari sistem polaroid pada soal diatas adalah sebagai berikut:

    I2=12I(cos53o)2I_2=\frac{1}{2}I\left(\cos53^o\right)^2

    =12I(35)2=\frac{1}{2}I\left(\frac{3}{5}\right)^2

    =12(925)I=\frac{1}{2}\left(\frac{9}{25}\right)I

    =950I=\frac{9}{50}I

    Jadi, intensitas cahaya yang keluar dari sistem polaroid adalah 950I\frac{9}{50}I.

  • Pilgan

    Berkas cahaya yang datang pada analisator memiliki medan listrik 800 N/C. Jika sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah 37o, maka medan listrik yang diteruskan analisator adalah ....

    A

    640 N/C

    B

    560 N/C

    C

    480 N/C

    D

    520 N/C

    E

    600 N/C

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Medan listrik yang datang pada analisator E = 800 N/C

    Sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator θ=37o\theta=37^o

    Ditanya:

    Medan listrik yang diteruskan analisator E2=?E_2=?

    Jawaban:

    Teknik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah getar lainnya. Polaroid yang biasa digunakan berjumlah dua dimana polaroid pertama disebut sebagai polarisator dan polaroid kedua disebut sebagai analisator.

    Cahaya terpolarisasi yang masih mempunyai kuat medan listrik belum berubah menuju menuju ke analisator (sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah (θ)\left(\theta\right). Di analisator, semua komponen E yang tegak lurus sumbu transmisi analisator diserap, hanya komponen E yang sejajar sumbu analisator yang diteruskan. Kuat medan listrik yang diteruskan oleh analisator adalah sebagai berikut,

    E2=EcosθE_2=E\cos\theta

    sehingga,

    E2=800cos37oE_2=800\cos37^o

    =800(45)=800\left(\frac{4}{5}\right)

    =640 N/C=640\text{ N/C}

    Jadi, medan listrik yang diteruskan analisator adalah 640 N/C.

  • Pilgan

    Rina mengarahkan dua jenis cahaya tak terpolarisasi secara bergantian pada dua polaroid (polarisator dan analisator). Cahaya pertama yang diarahkan memiliki intensitas II sedangkan cahaya kedua memiliki intensitas 3I2\frac{3I}{2}. Perbandingan Intensitas cahaya pertama dan kedua yang keluar dari sistem polaroid jika sudut antara kedua sumbu transmisi 30o adalah ...

    A

    2 : 3

    B

    3 : 2

    C

    3 : 5

    D

    3 : 4

    E

    4 : 3

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Intensitas awal cahaya A (IoA)=I\left(I_{oA}\right)=I

    Intensitas awal cahaya B (IoB)=3I2\left(I_{oB}\right)=\frac{3I}{2}

    Sudut antara kedua sumbu transmisi θ=30o\theta=30^o

    Ditanya:

    Perbandingan Intensitas cahaya pertama dan kedua yang keluar dari sistem polaroid I2AI2B=?\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=?

    Jawaban:

    Teknik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah getar lainnya. Polaroid yang biasa digunakan berjumlah dua dimana polaroid pertama disebut sebagai polarisator dan polaroid kedua disebut sebagai analisator.

    Cahaya yang datang pada polaroid akan dikeluarkan menjadi cahaya dengan intensitas yang berbeda. Jika cahaya yang datang memiliki intensitas IoI_o maka intensitas yang dikeluarkan polarisator adalah I1I_1 sedangkan yang dikeluarkan analisator adalah I2I_2. Hubungan antara intensitas tersebut memenuhi hukum Malus yaitu sebagai berikut:

    I2=I1cos2θI_2=I_1\cos^2\theta

    =12Iocos2θ=\frac{1}{2}I_o\cos^2\theta

    Perbandingan intensitas cahaya yang keluar dari sistem polaroid pada soal diatas adalah sebagai berikut:

    I2AI2B=12IoAcos2θ12IoBcos2θ\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{\frac{1}{2}I_{oA}\cos^2\theta}{\frac{1}{2}I_{oB}\cos^2\theta}

    I2AI2B=IoAIoB\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{I_{oA}}{I_{oB}}

    I2AI2B=I3I2\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{I}{\frac{3I}{2}}

    I2AI2B=23\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{2}{3}

    Jadi, perbandingan Intensitas cahaya pertama dan kedua yang keluar dari sistem polaroid adalah 2 : 3.

  • Pilgan

    Dua cahaya berbeda yang memiliki medan listrik E dan 2E datang pada sebuah analisator. Jika sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah 53o, maka perbandingan medan listrik cahaya pertama dan kedua yang diteruskan analisator adalah ....

    A

    3 : 1

    B

    1 : 4

    C

    1 : 2

    D

    2 : 1

    E

    1 : 3

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Medan listrik cahaya pertama EA = E

    Medan listrik cahaya kedua EB = 2E

    Sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator (θ)=53o\left(\theta\right)=53^o

    Ditanya:

    Perbandingan medan listrik cahaya pertama dan kedua yang diteruskan analisator E2AE2B=?\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=?

    Jawaban:

    Teknik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah getar lainnya. Polaroid yang biasa digunakan berjumlah dua dimana polaroid pertama disebut sebagai polarisator dan polaroid kedua disebut sebagai analisator.

    Cahaya terpolarisasi yang masih mempunyai kuat medan listrik belum berubah menuju menuju ke analisator (sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah (θ)\left(\theta\right). Di analisator, semua komponen E yang tegak lurus sumbu transmisi analisator diserap, hanya komponen E yang sejajar sumbu analisator yang diteruskan. Kuat medan listrik yang diteruskan oleh analisator adalah sebagai berikut,

    E2=EcosθE_2=E\cos\theta

    sehingga perbandingan medan listrik yang diteruskan analisator adalah,

    E2AE2B=EAcosθEBcosθ\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{E_A\cos\theta}{E_B\cos\theta}

    E2AE2B=EAEB\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{E_A}{E_B}

    E2AE2B=E2E\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{E}{2E}

    E2AE2B=12\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{1}{2}

    Jadi, perbandingan medan listrik cahaya pertama dan kedua yang diteruskan analisator adalah 1 : 2.

  • Pilgan

    Aldo menembakkan dua cahaya berbeda yang memiliki medan listrik EE dan E2\frac{E}{2} datang pada sebuah analisator. Jika sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah 30o, maka perbandingan medan listrik cahaya pertama dan kedua yang diteruskan analisator adalah ....

    A

    1 : 3

    B

    1 : 4

    C

    3 : 1

    D

    1 : 2

    E

    2 : 1

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Medan listrik cahaya pertama EA = E

    Medan listrik cahaya kedua EB = E2\frac{E}{2}

    Sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator (θ)=30o\left(\theta\right)=30^o

    Ditanya:

    Perbandingan medan listrik cahaya pertama dan kedua yang diteruskan analisator E2AE2B=?\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=?

    Jawaban:

    Teknik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah getar lainnya. Polaroid yang biasa digunakan berjumlah dua dimana polaroid pertama disebut sebagai polarisator dan polaroid kedua disebut sebagai analisator.

    Cahaya terpolarisasi yang masih mempunyai kuat medan listrik belum berubah menuju menuju ke analisator (sudut antara sumbu transmisi analisator dengan sumbu transmisi polarisator adalah (θ)\left(\theta\right). Di analisator, semua komponen E yang tegak lurus sumbu transmisi analisator diserap, hanya komponen E yang sejajar sumbu analisator yang diteruskan. Kuat medan listrik yang diteruskan oleh analisator adalah sebagai berikut,

    E2=EcosθE_2=E\cos\theta

    sehingga perbandingan medan listrik yang diteruskan analisator adalah,

    E2AE2B=EAcosθEBcosθ\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{E_A\cos\theta}{E_B\cos\theta}

    E2AE2B=EAEB\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{E_A}{E_B}

    E2AE2B=EE2\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{E}{\frac{E}{2}}

    E2AE2B=21\frac{E_{2A}}{E_{2B}}=\frac{2}{1}

    Jadi, perbandingan medan listrik cahaya pertama dan kedua yang diteruskan analisator adalah 2 : 1.

  • Pilgan

    Ari mengarahkan dua jenis cahaya tak terpolarisasi secara bergantian pada dua polaroid (polarisator dan analisator). Cahaya pertama yang diarahkan memiliki intensitas II sedangkan cahaya kedua memiliki intensitas I2\frac{I}{2}. Perbandingan Intensitas cahaya pertama dan kedua yang keluar dari sistem polaroid jika sudut antara kedua sumbu transmisi 60o adalah ...

    A

    2 : 1

    B

    1 : 4

    C

    1 : 3

    D

    3 : 1

    E

    1 : 2

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Intensitas awal cahaya A (IoA)=I\left(I_{oA}\right)=I

    Intensitas awal cahaya B (IoB)=I2\left(I_{oB}\right)=\frac{I}{2}

    Sudut antara kedua sumbu transmisi θ=60o\theta=60^o

    Ditanya:

    Perbandingan Intensitas cahaya pertama dan kedua yang keluar dari sistem polaroid I2AI2B=?\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=?

    Jawaban:

    Teknik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah getar lainnya. Polaroid yang biasa digunakan berjumlah dua dimana polaroid pertama disebut sebagai polarisator dan polaroid kedua disebut sebagai analisator.

    Cahaya yang datang pada polaroid akan dikeluarkan menjadi cahaya dengan intensitas yang berbeda. Jika cahaya yang datang memiliki intensitas IoI_o maka intensitas yang dikeluarkan polarisator adalah I1I_1 sedangkan yang dikeluarkan analisator adalah I2I_2. Hubungan antara intensitas tersebut memenuhi hukum Malus yaitu sebagai berikut:

    I2=I1cos2θI_2=I_1\cos^2\theta

    =12Iocos2θ=\frac{1}{2}I_o\cos^2\theta

    Perbandingan intensitas cahaya yang keluar dari sistem polaroid pada soal diatas adalah sebagai berikut:

    I2AI2B=12IoAcos2θ12IoBcos2θ\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{\frac{1}{2}I_{oA}\cos^2\theta}{\frac{1}{2}I_{oB}\cos^2\theta}

    I2AI2B=IoAIoB\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{I_{oA}}{I_{oB}}

    I2AI2B=II2\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{I}{\frac{I}{2}}

    I2AI2B=21\frac{I_{2A}}{I_{2B}}=\frac{2}{1}

    Jadi, perbandingan Intensitas cahaya pertama dan kedua yang keluar dari sistem polaroid adalah 2 : 1.


Tidak Ada Komentar

Ayo Daftar Sekarang!

Dan dapatkan akses ke seluruh 157.055 soal dengan berbagai tingkat kesulitan!

Daftar

Masih ada yang belum ngerti juga? Tanya ke kak tutor aja! Caranya, daftar layanan premium dan pilih paketnya.