Latihan Kimia Kelas XI Sistem Koloid
Admin Cube
Soal
10
Kesulitan
Reguler
Waktu
Mata Pelajaran
Kimia
Selesai
Benar
2
Salah
3
Dilewati
5

Komposisi Skor

Peringkat

 
1. 6
2. 4
3. 3
4. 2
5. 0
6+. 4
  • Pilgan
    0

    Mengapa agar-agar mampu mengadsorpsi mediumnya sedangkan mayones tidak?

    A

    Terdapat gugus ionik atau gugus polar pada agar-agar yang tidak dimiliki mayones.

    B

    Penambahan larutan elektrolit akan menggumpalkan agar-agar sehingga lebih mudah larut.

    C

    Kelarutan agar-agar pada mediumnya lebih rendah dibanding mayones.

    D

    Pada konsentrasi yang tinggi, kestabilan agar-agar lebih rendah dibanding mayones.

    E

    Terdapat ikatan kovalen yang menyebabkan sifat adsorpsi agar-agar tinggi.

    Pembahasan:

    Koloid merupakan sistem dispersi yang berada dalam bentuk antara larutan dan suspensi. Koloid termasuk sistem yang heterogen yang dibentuk dengan cara mendispersikan suatu zat ke dalam suatu media yang homogen.

    Sifat-sifat koloid sebagai berikut.

    1. Efek Tyndall: penghamburan berkas sinar oleh sistem koloid.
    2. Elektroforesis: partikel koloid memiliki muatan sehingga dapat bergerak dalam medan listrik.
    3. Koagulasi: penggumpalan pada sistem koloid yang dapat disebabkan oleh penambahan larutan elektrolit.
    4. Gerak Brown: partikel koloid yang bergerak terus-menerus dengan gerakan patah-patah atau zig-zag.
    5. Adsorpsi: kemampuan koloid untuk menyerap berbagai macam zat pada permukaannya.


    Koloid yang memiliki medium pendispersi cair dapat dibedakan menjadi koloid liofil dan liofob.

    • Koloid liofil adalah koloid yang memiliki gaya tarik-menarik yang cukup besar antara zat terdispersi dan medium pendispersinya.
    • Koloid liofob adalah koloid yang gaya tarik-menarik antara zat terdispersi dan medium pendispersinya sangat lemah atau bahkan tidak ada.

    Jika medium pendispersinya adalah air, kedua jenis koloid di atas disebut dengan koloid hidrofil dan koloid hidrofob.

    • Contoh dari koloid hidrofil adalah agar-agar, kanji, dan gelatin.
    • Contoh dari koloid hidrofob adalah mayones, sol belerang, dan susu.

    Agar-agar lebih mudah menyerap atau mengadsoprsi medium dispersinya (air) karena agar-agar merupakan koloid hidrofil di mana koloid jenis ini memiliki gugus ionik atau gugus polar di permukaannya. Gugus polar ini dapat berinteraksi sangat baik dengan air karena air termasuk senyawa polar. Sedangkan mayones termasuk koloid hidrofob di mana tidak terdapat gugus polar yang mampu berinteraksi dengan air (senyawa polar).

    Jadi agar-agar mampu mengadsorpsi mediumnya sedangkan mayones tidak, sebab terdapat gugus ionik atau gugus polar pada agar-agar yang tidak dimiliki mayones.

  • Pilgan

    Berikut ini merupakan contoh koloid yang terbentuk dari suatu sol di mana zat terdispersinya memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi medium pendispersinya, kecuali ....

    A

    keju

    B

    lem kanji

    C

    agar-agar

    D

    selai

    E

    gelatin

    Pembahasan:

    Gel merupakan jenis koloid setengah kaku (antara padat dan cair). Gel dapat terbentuk dari suatu sol di mana zat terdispersinya memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi medium pendispersinya sehingga terbentuk koloid yang agak padat. Contoh gel adalah selai, gelatin, agar-agar, lem kanji, gel sabun, dan gel silika.

    Jadi contoh koloid yang tidak terbentuk dari suatu sol di mana zat terdispersinya memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi medium pendispersinya adalah keju.

    *Keju merupakan contoh emulsi padat di mana zat cair terdispersi di dalam zat padat.

  • Pilgan

    Perhatikan sifat-sifat berikut!

    1) Secara makroskopis bersifat homogen.

    2) Mengalami sedimentasi.

    3) Partikelnya berdimensi kurang dari 1 nm.

    4) Tidak dapat disaring.

    5) Tidak stabil.

    Sifat suspensi ditunjukkan oleh nomor ....

    A

    4 dan 5

    B

    2 dan 5

    C

    2 dan 4

    D

    1 dan 3

    E

    1 dan 2

    Pembahasan:

    Sifat Larutan

    Homogen, partikel terdispersi tidak dapat dibedakan meskipun menggunakan mikroskop ultra, ukuran partikelnya kurang dari 1 nm, sangat stabil (tidak terpisah), dan tidak dapat disaring.

    Sifat Koloid

    Secara makroskopis bersifat homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra, ukuran partikelnya antara 1 nm sampai 100 nm, relatif stabil (sukar terpisah), dan tidak dapat disaring.

    Sifat Suspensi

    Bersifat heterogen, ukuran partikelnya lebih besar dari 100 nm, tidak stabil (mudah terpisah), mengalami sedimentasi (pengendapan), dan dapat disaring.

    Jadi sifat suspensi ditunjukan oleh 2 dan 5.

  • Pilgan
    2

    Peristiwa-peristiwa berikut dalam kehidupan sehari-hari merupakan contoh dari sifat koagulasi koloid, kecuali ....

    A

    pencegahan polusi udara

    B

    penambahan tawas pada lumpur koloidal dalam air

    C

    pembentukan delta di muara sungai

    D

    penggunaan norit

    E

    pengolahan karet dari bahan lateks

    Pembahasan:

    Koloid merupakan sistem dispersi yang berada dalam bentuk antara larutan dan suspensi. Koloid termasuk sistem yang heterogen yang dibentuk dengan cara mendispersikan suatu zat ke dalam suatu media yang homogen.

    Sifat-sifat koloid sebagai berikut.

    1. Efek Tyndall: penghamburan berkas sinar oleh sistem koloid.
    2. Elektroforesis: partikel koloid memiliki muatan sehingga dapat bergerak dalam medan listrik.
    3. Koagulasi: penggumpalan pada sistem koloid yang dapat disebabkan oleh penambahan larutan elektrolit.
    4. Gerak Brown: partikel koloid yang bergerak terus-menerus dengan gerakan patah-patah atau zig-zag.
    5. Adsorpsi: kemampuan koloid untuk menyerap berbagai macam zat pada permukaannya.


    Analis opsi jawaban

    1. Pembentukan delta di muara sungai --> Pembentukan delta terjadi karena koloid tanah liat mengalami penggumpalan ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut. Peristiwa ini termasuk peristiwa koagulasi.
    2. Pengolahan karet dari lateks --> Pada proses pengolahan, karet dalam lateks ditambahkan asam format sehingga terjadi penggumpalan. Peristiwa ini termasuk peristiwa koagulasi atau penggumpalan.
    3. Penambahan tawas pada lumpur koloidal dalam air --> Penambahan tawas ini akan menyebabkan lumpur menggumpal. Sol tanah liat yang bermuatan negatif akan digumpalkan oleh ion aluminium (Al3+) dari tawas. Peristiwa ini termasuk peristiwa koagulasi atau penggumpalan.
    4. Pencegahan polusi udara. Pencegahan polusi udara dapat dilakukan dengan menggumpalkan asap atau debu yang dihasilkan menggunakan alat koagulasi listrik. Alat ini memanfaatkan sifat koagulasi (penggumpalan) dari koloid.
    5. Penggunaan norit. Norit adalah tablet obat yang terbuat dari karbon aktif. Ketika diminum, norit dapat membentuk sistem koloid yang dapat mengadsorpsi gas atau zat racun (di usus).

    Jadi peristiwa-peristiwa berikut dalam kehidupan sehari-hari yang bukan merupakan contoh dari sifat koagulasi koloid adalah penggunaan norit.

  • Pilgan
    0

    Pengoperasian pabrik-pabrik besar di ibukota menyisakan asap dan debu yang sangat berbahaya. Karena semakin hari semakin meresahkan, para aktivis lingkungan bekerja sama untuk mencegah terjadinya polusi udara dengan memanfaatkan sifat dari koloid.

    Sifat koloid yang sesuai untuk tujuan tersebut adalah ....

    A

    gerak Brown

    B

    adsorpsi

    C

    osmosis

    D

    koagulasi

    E

    efek Tyndall

    Pembahasan:

    Koloid merupakan sistem dispersi yang berada dalam bentuk antara larutan dan suspensi. Koloid termasuk sistem yang heterogen yang dibentuk dengan cara mendispersikan suatu zat ke dalam suatu media yang homogen.

    Sifat-sifat koloid sebagai berikut.

    1. Efek Tyndall: penghamburan berkas sinar oleh sistem koloid.
    2. Elektroforesis: partikel koloid memiliki muatan sehingga dapat bergerak dalam medan listrik.
    3. Koagulasi: penggumpalan pada sistem koloid yang dapat disebabkan oleh penambahan larutan elektrolit.
    4. Gerak Brown: partikel koloid yang bergerak terus-menerus dengan gerakan patah-patah atau zig-zag.
    5. Adsorpsi: kemampuan koloid untuk menyerap berbagai macam zat pada permukaannya.


    Pencegahan polusi udara dapat dilakukan dengan menggumpalkan asap dan debu yang dihasilkan menggunakan alat koagulasi listrik. Asap dan debu adalah sistem koloid dengan fase terdispersi padat dan medium pendispersi gas. Alat ini memanfaatkan sifat koagulasi (penggumpalan) dari koloid.

    Gambar alat koagulasi listrik

    Sumber: Baig, K. Shahzad & Yousaf, Muhammad. (2017). Coal Fired Power Plants: Emission Problems and Controlling Techniques. Journal of Earth Science & Climatic Change. 08. 10.4172/2157-7617.1000404. 

    • Inlet gases from boiler: gas yang masih mengandung asap dan debu.
    • Dust outlet: bagian untuk mengeluarkan debu yang telah digumpalkan.
    • Dust collection: tempat pengumpulan debu yang telah digumpalkan.
    • Filter bags: alat penyaringan untuk memisahkan asap dan debu dari gas bersih.
    • Outlet clean gases: gas yang telah disaring dan bebas dari pengotor (asap dan debu).

    Cara kerja alat koagulasi listrik adalah sebagai berikut.

    1. Asap pabrik dialirkan melalui ujung-ujung logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi.
    2. Ujung-ujung yang runcing akan mengionkan molekul-molekul dalam udara.
    3. Ion-ion tersebut kemudian diserap oleh partikel asap dan menjadi bermuatan (sifat adsorpsi koloid yang mengikat zat pada permukaannya, termasuk ion).
    4. Partikel asap yang bermuatan tersebut akan tertarik pada elektrode dan menggumpal.

    Jadi sifat koloid yang sesuai untuk mencegah polusi udara adalah sifat koagulasi (penggumpalan).

  • Pilgan

    Produk yang dibuat dalam bentuk aerosol agar lebih praktis saat digunakan adalah ....

    A

    cat kuku

    B

    parfum

    C

    minyak rambut

    D

    tinta

    E

    pasta gigi

    Pembahasan:

    Aerosol merupakan jenis koloid di mana fase terdispersinya berupa zat cair atau padat dan medium pendispersinya berupa gas.

    Analisis dari tiap opsi jawaban sebagai berikut.

    • Tinta --> fase terdispersinya padat dan medium pendispersinya cair, disebut dengan sol.
    • Cat kuku --> fase terdispersinya padat dan medium pendispersinya cair, disebut dengan sol.
    • Minyak rambut --> fase terdispersinya cair dan medium pendispersinya padat, disebut dengan emulsi padat.
    • Pasta gigi --> fase terdispersinya gas dan medium pendispersinya cair, disebut dengan buih.
    • Parfum ketika disemprotkan --> fase terdispersinya cair dan medium pendispersinya gas, disebut dengan aerosol cair.

    Jadi produk yang dibuat dalam bentuk aerosol agar lebih praktis saat digunakan adalah parfum.

  • Pilgan

    Perhatikan reaksi berikut!

    2H3AsO3(aq) ++ 3H2S(aq) \longrightarrow As2S3(koloid) ++ 6H2O(l)

    Manakah pernyataan berikut yang benar untuk menggambarkan reaksi tersebut?

    A

    Pembuatan koloid memanfaatkan proses penggantian pelarut menjadi asam yaitu asam sulfida.

    B

    Proses sintesis memanfaatkan reaksi redoks karena terjadi perubahan bilangan oksidasi.

    C

    Pembuatan koloid menggunakan reaksi hidrolisis karena terbentuk air setelah reaksi selesai.

    D

    Pembuatan koloid memanfaatkan proses dekomposisi rangkap karena koloid yang terbentuk sukar larut dalam air.

    E

    Pembuatan koloid menggunakan cara peptisasi karena melibatkan penggunaan gas asam sulfida.

    Pembahasan:

    Koloid merupakan sistem dispersi yang berada dalam bentuk antara larutan dan suspensi.

    Cara membuat koloid ada dua macam.

    1) Cara kondensasi

    Pembuatan koloid dengan cara menggabungkan partikel larutan sejati (molekul atau ion). Cara kondensasi memanfaatkan reaksi berikut.

    1. Reaksi redoks: jika dalam pembuatan koloid disertai perubahan biloks.
    2. Reaksi hidrolisis: jika pembuatan koloid dilakukan dengan mereaksikan suatu zat dengan air.
    3. Dekomposisi rangkap: jika koloid yang akan dibentuk sukar larut dalam air.
    4. Penggantian pelarut

    2) Cara dispersi

    pembuatan koloid dengan cara mengubah ukuran partikel besar (padatan atau suspensi) menjadi partikel koloid. Cara dispersi adalah sebagai berikut.

    1. Cara mekanik: penggerusan butir-butir kasar menjadi butiran yang lebih halus kemudian dicampurkan dalam medium pendispersi.
    2. Cara peptisasi: pembuatan koloid dari butir-butir kasar dengan bantuan zat pemecah atau zat pemeptisasi.
    3. Cara busur Bredig: digunakan untuk membuat sol-sol logam dengan menjadikan logam sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam medium pendispersi dan diberi aliran listrik.


    2H3AsO3(aq) ++ 3H2S(aq) \longrightarrow As2S3(koloid) ++ 6H2O(l)

    Analisis pernyataan

    1. Tidak terjadi perubahan biloks pada reaksi tersebut sehingga bukan termasuk reaksi redoks.

    2. Air tidak digunakan dalam reaksi sehingga bukan termasuk reaksi hidrolisis.

    3. Pelarut tidak berubah, asam sulfida merupakan gas yang dicampurkan untuk membentuk sol arsenik sulfida. Sehingga reaksi tersebut bukan termasuk penggantian pelarut.

    4. Tidak terdapat proses penggerusan dan penambahan zat pemeptisasi sehingga bukan proses mekanik dan peptisasi.

    5. Arsenik sulfida termasuk koloid yang sukar larut dalam air sehingga proses pembuatannya menggunakan reaksi dekomposisi rangkap.

    Jadi pernyataan yang benar untuk menggambarkan reaksi tersebut adalah pembuatan sol memanfaatkan proses dekomposisi rangkap karena sol yang terbentuk sukar larut dalam air.

  • Pilgan
    2

    Perhatikan reaksi berikut!

    FeCl3(aq) ++ 3H2O(l) \longrightarrow Fe(OH)3(koloid) ++ 3HCl(aq)

    Berdasarkan reaksi di atas, pembuatan koloid dilakukan melalui ....

    A

    reaksi reduksi oksidasi

    B

    proses peptisasi

    C

    reaksi hidrolisis

    D

    cara mekanik

    E

    reaksi dekomposisi

    Pembahasan:

    Koloid merupakan sistem dispersi yang berada dalam bentuk antara larutan dan suspensi.

    Cara membuat koloid ada dua macam.

    1) Cara kondensasi

    Pembuatan koloid dengan cara menggabungkan partikel larutan sejati (molekul atau ion). Cara kondensasi memanfaatkan reaksi berikut.

    1. Reaksi redoks: jika dalam pembuatan koloid disertai perubahan biloks.
    2. Reaksi hidrolisis: jika pembuatan koloid dilakukan dengan mereaksikan suatu zat dengan air.
    3. Dekomposisi rangkap: jika koloid yang akan dibentuk sukar larut dalam air.
    4. Penggantian pelarut: pembuatan koloid dengan cara mencampurkan larutan jenuh suatu zat dengan pelarut yang kelarutannya lebih rendah.

    2) Cara dispersi

    pembuatan koloid dengan cara mengubah ukuran partikel besar (padatan atau suspensi) menjadi partikel koloid. Cara dispersi adalah sebagai berikut.

    1. Cara mekanik: penggerusan butir-butir kasar menjadi butiran yang lebih halus kemudian dicampurkan dalam medium pendispersi.
    2. Cara peptisasi: pembuatan koloid dari butir-butir kasar dengan bantuan zat pemecah atau zat pemeptisasi.
    3. Cara busur Bredig: digunakan untuk membuat sol-sol logam dengan menjadikan logam sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam medium pendispersi dan diberi aliran listrik.


    Pembentukan koloid besi(III) hidroksida diperoleh dengan cara hidrolisis karena besi(III) klorida bereaksi dengan air. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

    FeCl3(aq) ++ 3H2O(l) \longrightarrow Fe(OH)3(koloid) ++ 3HCl(aq)

    Jadi reaksi pembuatan koloid besi hidroksida melalui reaksi hidrolisis.

  • Pilgan
    0

    Sistem koloid memiliki manfaat yang sangat luas dalam kehidupan di mana pemanfaatannya didasarkan pada sifat-sifat dari koloid. Salah satu sifat tersebut adalah adsorpsi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai proses berikut, kecuali ....

    A

    pembentukan delta di muara sungai

    B

    pemutihan gula tebu

    C

    penjernihan air

    D

    penggunaan norit

    E

    penyerapan gas atau zat racun

    Pembahasan:

    Koloid merupakan sistem dispersi yang berada dalam bentuk antara larutan dan suspensi. Koloid termasuk sistem yang heterogen yang dibentuk dengan cara mendispersikan suatu zat ke dalam suatu media yang homogen.

    Sifat-sifat koloid sebagai berikut.

    1. Efek Tyndall: penghamburan berkas sinar oleh sistem koloid.
    2. Elektroforesis: partikel koloid memiliki muatan sehingga dapat bergerak dalam medan listrik.
    3. Koagulasi: penggumpalan pada sistem koloid yang dapat disebabkan oleh penambahan larutan elektrolit.
    4. Gerak Brown: partikel koloid yang bergerak terus-menerus dengan gerakan patah-patah atau zig-zag.
    5. Adsorpsi: kemampuan koloid untuk menyerap berbagai zat pada permukaannya.


    Analis opsi jawaban

    1. Pemutihan gula tebu --> Gula tebu yang masih berwarna dilarutkan dalam air kemudian dialirkan melalui sistem koloid (tanah diatomae dan arang tulang). Partikel koloid akan menyerap zat warna dari gula tebu sehingga diperoleh warna putih bersih. Proses ini memanfaatkan sifat adsorpsi dari koloid.
    2. Penggunaan norit --> Norit adalah tablet obat yang terbuat dari karbon aktif. Ketika diminum, norit dapat membentuk sistem koloid yang dapat mengadsorpsi gas atau zat racun (di usus).
    3. Penjernihan air --> Penjernihan air dilakukan dengan menambahkan tawas atau aluminium sulfat ke dalam air. Aluminium sulfat akan terhidrolisis membentuk koloid aluminium hidroksida. Aluminium hidroksida inilah yang berperan menyerap zat warna atau zat pencemar dalam air. Proses ini memanfaatkan sifat adsorpsi dari koloid.
    4. Pembentukan delta di muara sungai --> Pembentukan delta terjadi karena koloid tanah liat mengalami penggumpalan ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut. Peristiwa ini disebabkan oleh sifat koagulasi pada koloid.

    Jadi proses yang tidak memanfaatkan sifat adsorpsi dari koloid adalah pembentukan delta di muara sungai.

  • Pilgan

    Penambahan sabun dalam air akan membentuk sistem koloid bukan larutan. Hal ini disebabkan ....

    A

    kepolaran sabun dan air sangat mirip

    B

    keberadaan gugus liofil yang menstabilkan

    C

    sifat sabun yang sangat nonpolar

    D

    ikatan antarmolekul sabun yang kuat

    E

    keberadaan gugus hidrofob dan hidrofil

    Pembahasan:

    Koloid merupakan sistem dispersi yang berada dalam bentuk antara larutan dan suspensi.

    Koloid Asosiasi

    Sabun memiliki bagian kepala yang hidrofil (suka air) dan bagian ekor yang hidrofob (tidak suka air). Di dalam air, molekul-molekul sabun akan berasosiasi dan memposisikan diri (orientasi) karena gugus nonpolar (bagian ekor) akan saling terdesak sehingga terbentuk partikel koloid. Bagian kepala yang hidrofil akan menghadap ke air sedangkan bagian ekor yang hidrofob akan berkumpul mengarah ke dalam.

    Jadi penambahan sabun dalam air akan membentuk sistem koloid bukan larutan karena keberadaan gugus hidrofob dan hidrofil.


Tidak Ada Komentar

Ayo Daftar Sekarang!

Dan dapatkan akses ke seluruh 157.055 soal dengan berbagai tingkat kesulitan!

Daftar

Masih ada yang belum ngerti juga? Tanya ke kak tutor aja! Caranya, daftar layanan premium dan pilih paketnya.