Latihan Fisika Kelas XII Konsep dan Aplikasi Induksi Elektromagnetik
Admin Cube
Soal
10
Kesulitan
Reguler
Waktu
Mata Pelajaran
Fisika
Selesai
Benar
0
Salah
1
Dilewati
9

Komposisi Skor

Peringkat

 
1. 0
  • Pilgan
    0

    Perhatikan alat-alat berikut!

    (1)

    (2)

    (3)

    (4)

    Alat-alat yang mengaplikasikan induksi elektromagnetik dalam prinsip kerjanya ditunjukkan pada nomor ....

    A

    (2) dan (3)

    B

    (1), (2), dan (3)

    C

    (1) dan (3)

    D

    (1), (2), dan (4)

    E

    (3) dan (4)

    Pembahasan:

    Induksi elektromagnetik merupakan peristiwa timbulnya gaya gerak listrik induksi akibat adalanya perubahan fluks magnetik. Aplikasi induksi elektromagnetik dalam kehidupan sehari-hari digunakan pada alat-alat berikut, yaitu:

    1. Dinamo
    2. Generator
    3. Transformator atau trafo
    4. Seismograf
    5. Mikrofon
    6. Loudspeaker

    Jadi, alat-alat yang mengaplikasikan induksi elektromagnetik dalam prinsip kerjanya ditunjukkan pada nomor (1), (2), dan (4).

  • Pilgan

    Perhatikan pernyataan-pertanyaan berikut!

    (1) Mengurangi jumlah lilitan.

    (2) Memperkecil jumlah putaran rotor per detik.

    (3) Memperbesar induksi magnetik yang digunakan.

    (4) Memperkecil periode putaran rotor.

    Pernyataan yang tepat tentang cara memperbesar GGL generator adalah ....

    A

    (2) dan (3)

    B

    (1) dan (2)

    C

    (1) dan (3)

    D

    (3) dan (4)

    E

    (1) dan (4)

    Pembahasan:

    GGL generator dirumuskan dengan persamaan berikut.

    ε=NBAωsinωt\varepsilon=NBA\omega\sin\omega t

    Karena εmaks=NBAω\varepsilon_{\text{maks}}=NBA\omega, maka

    ε=εmakssinωt\varepsilon=\varepsilon_{\text{maks}}\sin\omega t

    Berdasarkan persamaan tersebut, dapat dilihat bahwa cara untuk memperbesar GGL generator dapat dilakukan dengan cara:

    1. Memperbesar induksi magnetik (BB)
    2. Memperbesar luas penampang (AA)
    3. Memperbesar kecepatan sudut rotor (ω\omega)
    4. Memperbesar frekuensi atau jumlah putaran rotor per detik (ff)
    5. Memperkecil periode atau waktu yang dibutuhkan dalam satu kali putaran rotor (TT)
    6. Menambah jumlah lilitan (NN)

    Jadi, pernyataan yang tepat tentang cara memperbesar GGL generator adalah (3) dan (4).

  • Pilgan

    Arus sebesar X mengalir pada suatu solenoida sehingga menimbulkan fluks magnetik sebesar 0,004 Weber. Jika jumlah lilitan pada solenoida adalah 75 lilitan dan induktansi solenoida adalah 0,15 H, maka besar nilai X adalah ....

    A

    0,25 A

    B

    2,5 A

    C

    1,5 A

    D

    0,20 A

    E

    2,0 A

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Fluks magnetik ϕ\phi = 0,004 Weber

    Jumlah lilitan NN = 75 lilitan

    Induktansi induktor LL = 0,15 H

    Ditanya:

    Nilai X I=I=?

    Dijawab:

    Nilai X merupakan besar nilai arus yang mengalir pada solenoida. Solenoida pada rangkaian listrik dapat menjadi suatu induktor. Induktansi induktor merupakan kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet yang dirumuskan dengan persamaan berikut.

    L=N ϕIL=N\ \frac{\phi}{I}

    Atau

    L=μ0N2AlL=\frac{\mu_0N^2A}{l}

    Sehingga dengan menggunakan persamaan yang pertama,

    L=N ϕIL=N\ \frac{\phi}{I}

    IL=NϕIL=N\phi

    I=NϕLI=\frac{N\phi}{L}

    I=(75)(0,004)0,15I=\frac{\left(75\right)\left(0,004\right)}{0,15}

    I=0,30,15I=\frac{0,3}{0,15}

    I=2,0I=2,0 A

    Jadi, besar nilai X adalah 2,0 A.

  • Pilgan

    Induktor Z memiliki induktansi sebesar 0,5 H. Jika arus mengalir 2 A, maka energi yang tersimpan dalam induktor Z adalah ....

    A

    8,0 J

    B

    5,0 J

    C

    2,0 J

    D

    1,0 J

    E

    4,0 J

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Induktansi induktor Z LL = 0,5 H

    Arus yang mengalir II = 2 A

    Ditanya:

    Energi yang tersimpan dalam induktor W=W=?

    Dijawab:

    Energi yang tersimpan dalam induktor dirumuskan sebagai berikut.

    W=12LI2W=\frac{1}{2}LI^2

    Sehingga,

    W=12(0,5)(2)2W=\frac{1}{2}\left(0,5\right)\left(2\right)^2

    W=12(0,5)(4)W=\frac{1}{2}\left(0,5\right)\left(4\right)

    W=12(2,0)W=\frac{1}{2}\left(2,0\right)

    W=1,0W=1,0 J

    Jadi, energi yang tersimpan dalam induktor Z adalah 1,0 J.

  • Pilgan

    Suatu kumparan memiliki 2.000 lilitan. Dalam waktu 0,05 s, terjadi perubahan fluks magnetik dari 0,56 Wb menjadi 0,36 Wb dalam kumparan tersebut. Besar GGL induksi pada kumparan tersebut adalah ....

    A

    0,08 kV

    B

    800 kV

    C

    8 kV

    D

    80 kV

    E

    0,8 kV

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Jumlah lilitan NN = 2.000 lilitan

    Fluks awal ϕ1\phi_1 = 0,56 Wb

    Fluks akhir ϕ2\phi_2 = 0,36 Wb

    Selang waktu Δt\Delta t = 0,05 s

    Ditanya:

    GGL induksi ε=\varepsilon=?

    Dijawab:

    GGL induksi merupakan laju perubahan fluks magnetik pada kumparan yang dirumuskan dengan persamaan berikut.

    ε=N dϕdt\varepsilon=-N\ \frac{d\phi}{dt}

    Atau

    ε=N ΔϕΔt=N (ϕ2ϕ1)Δt\varepsilon=-N\ \frac{\Delta\phi}{\Delta t}=-N\ \frac{\left(\phi_2-\phi_1\right)}{\Delta t}

    Tanda negatif menunjukkan arah GGL induksi yang berlawanan dengan fluks magnetik sesuai dengan Hukum Lenz.

    Sehingga,

    ε=N ΔϕΔt\varepsilon=-N\ \frac{\Delta\phi}{\Delta t}

    ε=N (ϕ2ϕ1)Δt\varepsilon=-N\ \frac{\left(\phi_2-\phi_1\right)}{\Delta t}

    ε=(2.000) (0,360,56)(0,05)\varepsilon=-\left(2.000\right)\ \frac{\left(0,36-0,56\right)}{\left(0,05\right)}

    ε=(2.000) (0,2)(0,05)\varepsilon=-\left(2.000\right)\ \frac{\left(-0,2\right)}{\left(0,05\right)}

    ε=(2.000)(4)\varepsilon=-\left(2.000\right)\left(-4\right)

    ε=8.000\varepsilon=8.000 V

    ε=8\varepsilon=8 kV

    Jadi, besar GGL induksi pada kumparan tersebut adalah 8 kV.

  • Pilgan

    Lima buah lampu dengan tegangan masing-masing 12 V dipasang secara paralel pada kumparan sekunder trafo step-down. Kumparan primer trafo tersebut, terhubung dengan sumber daya PLN sebesar 360 V. Jika daya total 5 lampu pada kumparan sekunder adalah 300 W dan arus primer yang dapat digunakan dari daya PLN hanya 43\frac{4}{3} A, maka besar efisiensi trafo adalah ....

    A

    50%

    B

    62,5%

    C

    27,5%

    D

    75%

    E

    6%

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Jumlah lampu nn = 5

    Tegangan lampu VLV_{\text{L}} = 12 V

    Daya sekunder PsP_{\text{s}} = 300 W

    Tegangan primer VpV_{\text{p}} = 360 V

    Arus primer ApA_{\text{p}} = 43\frac{4}{3} A

    Trafo step-down

    Ditanya:

    Efisiensi trafo step-down η=\eta=?

    Dijawab:

    Trafo atau transformator merupakan salah satu aplikasi dari induksi elektromagnetik. Efisiensi trafo merupakan perbandingan antara daya keluaran (sekunder) dengan daya masukan (primer) dan dirumuskan dengan persamaan berikut.

    η=(PsPp)100%=(VsIsVpIp)100%\eta=\left(\frac{P_{\text{s}}}{P_{\text{p}}}\right)100\%=\left(\frac{V_{\text{s}}I_{\text{s}}}{V_{\text{p}}I_{\text{p}}}\right)100\%

    Sehingga, persamaannya dapat diubah menjadi:

    η=(PsVpIp)100%\eta=\left(\frac{P_{\text{s}}}{V_{\text{p}}I_{\text{p}}}\right)100\%

    η=(300(360)(43))100%\eta=\left(\frac{300}{\left(360\right)\left(\frac{4}{3}\right)}\right)100\%

    η=(300480)100%\eta=\left(\frac{300}{480}\right)100\%

    η=62,5%\eta=62,5\%

    Jadi, besar efisiensi trafo adalah 62,5%.

  • Pilgan

    Perhatikan gambar berikut!

    Kumparan primer trafo step-down yang dihubungkan dengan sumber tegangan AC sebesar 120 V dan mengalir arus sebesar 5 A, memiliki efisiensi sebesar 60%. Jika kumparan sekunder trafo dihubungkan dengan lampu L, maka besar hambatan lampu L adalah ....

    A

    30 Ω30\ \Omega

    B

    10 Ω10\ \Omega

    C

    50 Ω50\ \Omega

    D

    100 Ω100\ \Omega

    E

    90 Ω90\ \Omega

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Gambar trafo step-down:

    Tegangan primer VpV_{\text{p}} = 120 V

    Arus primer IpI_{\text{p}} = 5 A

    Jumlah lilitan primer NpN_{\text{p}} = 2.000 lilitan

    Efisiensi trafo step-down η\eta = 60%

    Jumlah lilitan sekunder NsN_{\text{s}} = 1.000 lilitan

    Ditanya:

    Hambatan lampu L RL=R_{\text{L}}=?

    Dijawab:

    Trafo step-down merupakan trafo yang berfungsi untuk menurunkan tegangan listrik dan memiliki ciri-ciri yaitu:

    • Vp>VsV_{\text{p}}>V_{\text{s}}
    • Np>NsN_{\text{p}}>N_{\text{s}}
    • Ip<IsI_{\text{p}}<I_{\text{s}}

    Trafo atau transformator merupakan salah satu aplikasi dari induksi elektromagnetik. Transformator secara ideal memenuhi persamaan berikut.

    VpVs=NpNs=IsIp\frac{V_{\text{p}}}{V_{\text{s}}}=\frac{N_{\text{p}}}{N_{\text{s}}}=\frac{I_{\text{s}}}{I_{\text{p}}}

    Sedangkan efisiensi trafo merupakan perbandingan antara daya keluaran (sekunder) dengan daya masukan (primer) dan dirumuskan dengan persamaan berikut.

    η=(PsPp)100%=(VsIsVpIp)100%\eta=\left(\frac{P_{\text{s}}}{P_{\text{p}}}\right)100\%=\left(\frac{V_{\text{s}}I_{\text{s}}}{V_{\text{p}}I_{\text{p}}}\right)100\%

    Berdasarkan persamaan efisiensi trafo dapat dihitung besar daya lampu. Daya lampu dalam kumparan sekunder sama dengan daya kumparan sekunder, sehingga:

    η=(PsPp)100%\eta=\left(\frac{P_{\text{s}}}{P_{\text{p}}}\right)100\%

    Ps=PL=η100%PpP_{\text{s}}=P_{\text{L}}=\frac{\eta}{100\%}P_{\text{p}}

    PL=η100%PpP_{\text{L}}=\frac{\eta}{100\%}P_{\text{p}}

    Karena persamaan daya adalah P=VIP=VI, maka:

    PL=η100%(VpIp)P_{\text{L}}=\frac{\eta}{100\%}\left(V_{\text{p}}I_{\text{p}}\right)

    PL=(60%100%)(120)(5)P_{\text{L}}=\left(\frac{60\%}{100\%}\right)\left(120\right)\left(5\right)

    PL=(0,6)(120)(5)P_{\text{L}}=\left(0,6\right)\left(120\right)\left(5\right)

    PL=360P_{\text{L}}=360 W

    Melalui persamaan trafo ideal, dapat dihitung besar tegangan output pada kumparan sekunder sebagai berikut.

    VpVs=NpNs\frac{V_{\text{p}}}{V_{\text{s}}}=\frac{N_{\text{p}}}{N_{\text{s}}}

    Vs=VpNsNpV_{\text{s}}=\frac{V_{\text{p}}N_{\text{s}}}{N_{\text{p}}}

    Vs=(120)(1.000)(2.000)V_{\text{s}}=\frac{\left(120\right)\left(1.000\right)}{\left(2.000\right)}

    Vs=60V_{\text{s}}=60 V

    Salah satu persamaan daya adalah sebagai berikut.

    P=V2RP=\frac{V^2}{R}

    Berdasarkan persamaan tersebut, dapat dihitung nilai hambatan lampu L adalah sebagai berikut.

    RL=Vs2PLR_{\text{L}}=\frac{V_{\text{s}}^2}{P_{\text{L}}}

    RL=(60)2(360)R_{\text{L}}=\frac{\left(60\right)^2}{\left(360\right)}

    RL=3.600360R_{\text{L}}=\frac{3.600}{360}

    RL=10 ΩR_{\text{L}}=10\ \Omega

    Jadi, besar hambatan lampu L adalah 10 Ω10\ \Omega.

  • Pilgan

    Suatu solenoida sepanjang 0,4 m terbuat dari 150 lilitan kawat. Luas penampang kumparan solenoida tersebut adalah 600 m2. Jika terjadi penurunan arus sebesar 5 A dalam waktu 0,1 s, maka besar GGL induksi diri pada solenoida adalah .... (μ0=4π×107 H/m; π=3,14\mu_0=4\pi\times10^{-7}\ \text{H/m};\ \pi=3,14)

    A

    2.191,5 V

    B

    2.119,5 V

    C

    2.911,5 V

    D

    2.151,9 V

    E

    2.115,9 V

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Panjang solenoida ll = 0,4 m

    Jumlah lilitan NN = 150 lilitan

    Luas penampang AA = 600 m2

    Perubahan arus ΔI\Delta I = - 5 A

    Selang waktu Δt\Delta t = 0,1 s

    Permeabilitas ruang hampa μ0=4π×107\mu_0=4\pi\times10^{-7} H/m

    π=3,14\pi=3,14

    Ditanya:

    GGL induksi diri solenoida ε=\varepsilon=?

    Dijawab:

    Menentukan Induktansi solenoida

    Solenoida pada rangkaian listrik dapat menjadi suatu induktor. Induktansi induktor merupakan kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet yang dirumuskan dengan persamaan berikut.

    L=μ0N2AlL=\frac{\mu_0N^2A}{l}

    Sehingga,

    L=(4π×107)(150)2(600)0,4L=\frac{\left(4\pi\times10^{-7}\right)\left(150\right)^2\left(600\right)}{0,4}

    L=(4π×107)(22500)(600)0,4L=\frac{\left(4\pi\times10^{-7}\right)\left(22500\right)\left(600\right)}{0,4}

    L=5,4π0,4L=\frac{5,4\pi}{0,4}

    L=13,5πL=13,5\pi H

    Karena π=3,14\pi=3,14, maka:

    L=13,5(3,14)L=13,5\left(3,14\right)

    L=42,39L=42,39 H

    Menentukan GGL induksi diri solenoida

    GGL induksi diri secara matematis merupakan perkalian antara induktansi diri suatu induktor dengan laju perubahan kuat arus tiap waktu. Persamaan GGL induksi silang adalah sebagai berikut.

    ε=L ΔIΔt\varepsilon=-L\ \frac{\Delta I}{\Delta t}

    Sehingga,

    ε=L ΔIΔt\varepsilon=-L\ \frac{\Delta I}{\Delta t}

    ε=(42,39) (5)(0,1)\varepsilon=-\left(42,39\right)\ \frac{\left(-5\right)}{\left(0,1\right)}

    ε=(42,39) (50)\varepsilon=-\left(42,39\right)\ \left(-50\right)

    ε=2.119,5\varepsilon=2.119,5 V

    Jadi, besar GGL induksi diri pada solenoida adalah 2.119,5 V.

  • Pilgan

    Perhatikan tabel hasil pengukuran pada trafo 1 dan trafo 2 di bawah ini!

    Jika efisiensi trafo 2 adalah 23\frac{2}{3} dari efisiensi trafo 1, maka nilai X dan Y berturut-turut adalah ....

    A

    18 lilitan dan 80 V

    B

    16 lilitan dan 80 V

    C

    60 lilitan dan 16 V

    D

    80 lilitan dan 18 V

    E

    16 lilitan dan 60 V

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Berdasarkan tabel:

    Pada trafo 1

    Jumlah lilitan primer Np1N_{\text{p}1} = 900 lilitan

    Jumlah lilitan sekunder Ns1N_{\text{s}1} = 30 lilitan

    Arus primer Ip1I_{\text{p}1} = 5 A

    Arus sekunder Is1I_{\text{s}1} = 90 A

    Tegangan primer Vp1V_{\text{p}1} = 360 V

    Tegangan sekunder Vs1V_{\text{s}1} = 12 V

    Pada trafo 2

    Jumlah lilitan primer Np2N_{\text{p}2} = X

    Jumlah lilitan sekunder Ns2N_{\text{s}2} = 12 lilitan

    Arus primer Ip2I_{\text{p}2} = 3 A

    Arus sekunder Is2I_{\text{s}2} = 8 A

    Tegangan primer Vp2V_{\text{p}2} = 120 V

    Tegangan sekunder Vs2V_{\text{s}2} = Y

    Efisiensi trafo 2 η2=23η1\eta_2=\frac{2}{3}\eta_1

    Ditanya:

    Nilai X Np2N_{\text{p2}} =?

    Nilai Y Vs2V_{\text{s2}} =?

    Dijawab:

    Menentukan efisiensi trafo 1

    Efisiensi trafo merupakan perbandingan antara daya keluaran (sekunder) dengan daya masukan (primer) dan dirumuskan dengan persamaan berikut.

    η=(PsPp)100%=(VsIsVpIp)100%\eta=\left(\frac{P_{\text{s}}}{P_{\text{p}}}\right)100\%=\left(\frac{V_{\text{s}}I_{\text{s}}}{V_{\text{p}}I_{\text{p}}}\right)100\%

    Sehingga,

    η1=(Vs1Is1Vp1Ip1)100%\eta_1=\left(\frac{V_{\text{s}1}I_{\text{s1}}}{V_{\text{p}1}I_{\text{p}1}}\right)100\%

    η1=((12)(90)(360)(5))100%\eta_1=\left(\frac{\left(12\right)\left(90\right)}{\left(360\right)\left(5\right)}\right)100\%

    η1=(1.0801.800)100%\eta_1=\left(\frac{1.080}{1.800}\right)100\%

    η1=(0,6)100%\eta_1=\left(0,6\right)100\%

    η1=60%\eta_1=60\%

    Menentukan efisiensi trafo 2

    Efisiensi trafo 2 adalah 23\frac{2}{3} efisiensi trafo 1, sehingga:

    η2=23η1\eta_2=\frac{2}{3}\eta_1

    η2=23(60%)\eta_2=\frac{2}{3}\left(60\%\right)

    η2=120%3\eta_2=\frac{120\%}{3}

    η2=40%\eta_2=40\%

    Menentukan nilai X

    Nilai X merupakan jumlah lilitan dari kumparan primer trafo 2.

    Karena

    VpVs=NpNs  VN\frac{V_{\text{p}}}{V_{\text{s}}}=\frac{N_{\text{p}}}{N_{\text{s}}}\ \rightarrow\ V\sim N

    Maka, persamaan efisiensi trafo dapat diubah menjadi:

    η=(NsIsNpIp)100%\eta=\left(\frac{N_{\text{s}}I_{\text{s}}}{N_{\text{p}}I_{\text{p}}}\right)100\%.

    Sehingga,

    η2=(Ns2Is2Np2Ip2)100%\eta_2=\left(\frac{N_{\text{s2}}I_{\text{s2}}}{N_{\text{p}2}I_{\text{p}2}}\right)100\%

    η2100%=(Ns2Is2Np2Ip2)\frac{\eta_2}{100\%}=\left(\frac{N_{\text{s2}}I_{\text{s2}}}{N_{\text{p}2}I_{\text{p}2}}\right)

    Np2Ip2=Ns2Is2(η2100%)N_{\text{p}2}I_{\text{p}2}=\frac{N_{\text{s2}}I_{\text{s2}}}{\left(\frac{\eta_2}{100\%}\right)}

    Np2=Ns2Is2(η2100%)(Ip2)N_{\text{p}2}=\frac{N_{\text{s2}}I_{\text{s2}}}{\left(\frac{\eta_2}{100\%}\right)\left(I_{\text{p}2}\right)}

    Np2=(12)(8)(40%100%)(3)N_{\text{p}2}=\frac{\left(12\right)\left(8\right)}{\left(\frac{40\%}{100\%}\right)\left(3\right)}

    Np2=(12)(8)(0,4)(3)N_{\text{p}2}=\frac{\left(12\right)\left(8\right)}{\left(0,4\right)\left(3\right)}

    Np2=961,2N_{\text{p}2}=\frac{96}{1,2}

    Np2=80N_{\text{p}2}=80 lilitan

    Menentukan nilai Y

    Nilai Y merupakan nilai dari tegangan sekunder trafo 2, sehingga:

    η2=(Vs2Is2Vp2Ip2)100%\eta_2=\left(\frac{V_{\text{s}2}I_{\text{s2}}}{V_{\text{p}2}I_{\text{p}2}}\right)100\%

    η2100%=(Vs2Is2Vp2Ip2)\frac{\eta_2}{100\%}=\left(\frac{V_{\text{s}2}I_{\text{s2}}}{V_{\text{p}2}I_{\text{p}2}}\right)

    Vs2Is2=(η2100%)(Vp2Ip2)V_{\text{s}2}I_{\text{s2}}=\left(\frac{\eta_2}{100\%}\right)\left(V_{\text{p}2}I_{\text{p}2}\right)

    Vs2=(η2100%)(Vp2Ip2)Is2V_{\text{s}2}=\frac{\left(\frac{\eta_2}{100\%}\right)\left(V_{\text{p}2}I_{\text{p}2}\right)}{I_{\text{s2}}}

    Vs2=(40%100%)(120)(3)8V_{\text{s}2}=\frac{\left(\frac{40\%}{100\%}\right)\left(120\right)\left(3\right)}{8}

    Vs2=(0,4)(120)(3)8V_{\text{s}2}=\frac{\left(0,4\right)\left(120\right)\left(3\right)}{8}

    Vs2=1448V_{\text{s}2}=\frac{144}{8}

    Vs2=18V_{\text{s}2}=18 V

    Jadi, nilai X dan Y berturut-turut adalah 80 lilitan dan 18 V.

  • Pilgan

    Dalam mata pelajaran kelistrikan, Roni mencoba suatu toroida yang memiliki 100 lilitan dan jari-jari 0,5π\pi m. Kemudian Roni melilitkan 40 lilitan kawat pada toroida tersebut. Jika luas penampang dari toroida tersebut adalah 0,006 m2 dan arus listrik yang mengalir pada toroida berubah dari 9 A menjadi 7 A dalam waktu 0,2 s, maka besar GGL induksi silang yang timbul pada toroida tersebut adalah ... μV\mu\text{V}. (μ0=4π×107\mu_0=4\pi\times10^{-7} H/m)

    A

    154

    B

    192

    C

    172

    D

    180

    E

    196

    Pembahasan:

    Diketahui:

    Jumlah lilitan toroida N1N_1 = 100 lilitan

    Jumlah lilitan kumparan di toroida N2N_2 = 40 lilitan

    Panjang jari-jari toroida ll = 0,5π0,5\pi m

    Luas penampang toroida AA = 0,006 m2

    Arus awal I1I_1 = 9 A

    Arus akhir I2I_2 = 7 A

    Selang waktu Δt\Delta t = 0,2 s

    Permeabilitas ruang hampa μ0=4π×107\mu_0=4\pi\times10^{-7} H/m

    Ditanya:

    GGL induksi silang toroida ε=\varepsilon=?

    Dijawab:

    Menentukan induktansi silang

    Induktansi silang merupakan peristiwa dimana terjadi perubahan fluks magnetik pada kumparan sekunder akibat dari perubahan fluks magnetik di kumparan primer. Induktansi silang biasanya terjadi pada toroida. Persamaan induktansi silang pada toroida dirumuskan sebagai berikut.

    L=μ0N1N2AlL=\frac{\mu_0N_1N_2A}{l}

    Sehingga,

    L=μ0N1N2AlL=\frac{\mu_0N_1N_2A}{l}

    L=(4π×107)(100)(40)(0,006)(0,5π)L=\frac{\left(4\pi\times10^{-7}\right)\left(100\right)\left(40\right)\left(0,006\right)}{\left(0,5\pi\right)}

    L=9,6π×1060,5πL=\frac{9,6\pi\times10^{-6}}{0,5\pi}

    L=1,92×105L=1,92\times10^{-5} H

    Menentukan GGL induksi silang

    GGL induksi silang secara matematis merupakan perkalian antara induktansi silang dengan laju perubahan kuat arus tiap waktu. Persamaan GGL induksi silang adalah sebagai berikut.

    ε=L ΔIΔt\varepsilon=-L\ \frac{\Delta I}{\Delta t}

    Sehingga,

    ε=L ΔIΔt\varepsilon=-L\ \frac{\Delta I}{\Delta t}

    ε=(1,92×105)(79)(0,2)\varepsilon=-\left(1,92\times10^{-5}\right)\frac{\left(7-9\right)}{\left(0,2\right)}

    ε=(1,92×105)(2)(0,2)\varepsilon=-\left(1,92\times10^{-5}\right)\frac{\left(-2\right)}{\left(0,2\right)}

    ε=(1,92×105)(10)\varepsilon=-\left(1,92\times10^{-5}\right)\left(-10\right)

    ε=1,92×104\varepsilon=1,92\times10^{-4} V

    ε=192×106\varepsilon=192\times10^{-6} V

    ε=192 μV\varepsilon=192\ \mu\text{V}

    Jadi, besar GGL induksi silang yang timbul pada toroida tersebut adalah 192 μV192\ \mu\text{V}.


Tidak Ada Komentar

Ayo Daftar Sekarang!

Dan dapatkan akses ke seluruh 155.841 soal dengan berbagai tingkat kesulitan!

Daftar

Masih ada yang belum ngerti juga? Tanya ke kak tutor aja! Caranya, daftar layanan premium dan pilih paketnya.